Sabtu, 14 Januari 2012

IMAM MUSLIM

Imam Muslim, penghimpun dan penyusun Hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhori. Nama lengkapnya Imam Muslim adalah: Imam Abul Husain al Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. Ia belajar Hadits sejak masih dalam usia dini yaitu mulai tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir, dan negara negara lainnya. Ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih di kota Khurasan. Di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak ia berguru kepada Ahmad bin Hambal dan Abdulloh bin Muslamah, di Mesir ia berguru kepada 'Amr bin Sawad dam Harmalah bin Yahya. Muslim berkali kali mengunjungi Baghdat untuk belajar kepada ulamat ahli Hadits dan kunjungannya yang berakhir pada tahun 299 H, di waktu Imam Bukhori datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru.

Imam Muslim wafat pada hari Minggu sore dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin 25 Rojab 261 H dalam usia 55 tahun. Selain guru yang telah disebutkan diatas, Muslim masih mempunyai ulama yang menjadi gurunya diantaranya: Usman dan Abu Bakar keduanya putra Abu Syaibah, Syaiban bin Farwakh bin Habr, Amr an-Naqid, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa'id al-Ayli, Qurtaibah bin Sa'id.

Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit diantaranya:
Al Jami' ash-Shohih (shohih muslim)
Al Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama nama para perawi)
Kitabul Asma' wal Kuna
Kitab Al 'Ilal
Kitabul Aqron
Kitabu Su'alatihi Ahmad bin Hambal
Kitabul Intifa' bin Uhubis Siba'
Kitabul Muhadromin
Kitabu Man larsa lahu ila Rawin Wahid
Kitab Auladis Sahabah
Kitab Awhamil Muhadditsin
Kitab Shohih Muslim

Diantara kitab kitab diatas yang paling agung dan sangat bermanfaat luas, serta masih beredar hingga kini adalah al-Jami' ash-Shohih, terkenal dengan Shohih Muslim. Imam Muslim telah menggerakkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan hati hati dalam menggunakan lafadz lafadz dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafadz lafadz itu. Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, dimana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah di dengarnya.

Ketelitian dan kehati hatian Muslim terhadap Hadits yang di riwayatkan dalam Shohihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut: "Tidaklah aku mencantumkan sesuatu Hadits dalam kitab aku ini melainkan dengan alasan, juga tiada aku menggugurkan sesuatu Hadits dari padanya melainkan dengan alasan pula". Imam Muslim di dalam penulisannya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskahnya Shohih Muslim yang sudah dicetak sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Diantara pengulas yang paling baik membuat judul judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi.
IMAM ABU DAWUD
Imam Abu Dawud yang juga merupakan tokoh kenamaan ahli Hadits pada zamannya. Nama lengkapnya adalah: Sulaiman bin al-Asy'as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin 'Amr al-Azdi as-Sijistani, seorang imam ahli Hadits yang sangat teliti. Ia dilahirkan pada tahun 202 H / 817 M di Sijistani. Sejak kecilnya Abu Dawud sudah mencintai Ilmu dan para ulama bergaul dengan mereka untuk mereguk dan menimba ilmunya. Ia belajar Hadits dari para ulama yang tidak sedikit banyak jumlahnya yang dijumpainya di: Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri lainnya. Abu Dawud mengunjungi Baghdad ber kali kali. Disana ia mengajarkan Hadits dan fiqih kepada para penduduk dengan memakai kitab Sunan sebagai pegangannya. Kemudian Abu Dawud menetap di Basrah atas permintaan Gubernur setempat, yang menghendaki supaya Basrah menjadi "KA'BAH" bagi para ilmuwan dan peminat Hadits.
Diantaranya guru Imam Abu Dawud yang paling terkemuka adalah: Ahmad bin Hanbal, al-Qa'nabi, Abu 'Amr ad-Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdulloh bin Raja', Abul Walid at-Tayalisi dan lain lain. Ulama ulama yang mewarisi Hadits dan mengambil ilmunya antara lain : Abu 'Isa at-Tirmizi, Abu Abdur Rohman an-Nasa'i, putranya sendiri, Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awanah, Abu Sa'id al-A'rabi, Abu Ali al-Lu'lu'i, Abu Bakar bin Darsah, Abu Salim Muhammad bin Sa'id al-Jaldawi.
Abu Dawud mempunyai pandangan falsafah sendiri dalam cara berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar namun yang satunya lebih kecil dan sempit. Lengan baju yang lebar ini digunakan untuk membawa kitab kitab, sedang yang satunya lagi tidak diperlukan. Jadi kalau dibuat lebar hanyalah berlebih lebihan.
Setelah mengalami kehidupan penuh berkat yang disisi dengan aktivitas ilmiah, penghimpun dan menyebar luaskan Hadits, Abu Dawud meninggal dunia di Basrah. Ia wafat pada tanggal 16 Syawwal 275 H / 889 M. Imam Abu Dawud banyak memiliki karya antara lain:
Kitab as-Sunnant(Sunan Abu Dawud)
Kitab al-Marasil
Kitab Al Qodar
An Nasikh Al Mansukh
Fada'il al-A'mal
Kitab az-Zuhd
Dala'il an Nubuwah
Ibtida' al-Wahyu
Ahbar al-Khowarij
Diantara karya karya tersebut yang paling bernilai tinggi dan masih tetap masih tetap beredar adalah kitab Sunan Abu Dawud