Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2011

Syi'ir Tanpo Waton

Syi'ir Tanpo Waton
 di putar di haul I KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur)
 
 
استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا

يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم
Ngawiti ingsun nglaras Syiiran
Kelawan muji marang Pangeran
Kang paring rahmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan
 
Aku mulai menyelaraskan Syi’ir
Dengan memuji pada Tuhan
Yang memberi Rahmat dan kenikmatan
Siang malam tanpa hitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mong ngaji Syare'at bloko
Gur pinter ndongeng, nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro
 
Wahai saudara teman pria wanita
Jangan hanya mengaji Syare’at saja
Hanya pandai mendongeng, menulis dan membaca
Dikemudian hari akan sengsara
 
Akeh kang apal Qur'an haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe gag di gatekke
Yen isih kotor ati akale
 
Banyak yang hafal Qur’an Hadist
Sukanya mengkafirkan orang lain
Kafirnya sendiri tidak di urus
Kalau masih kotor hati akalnya
 
Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto
 
Mudah ketipu nafsu angkara
Di keindahan gebyar dunia
Iri dan dengki pada tetangga
Itulah sebabnya hatinya gelap dan nista

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhite
Baguse sangu mulyo matine
 
Ayo saudara jangan melupakan
Kuajiban mengaji dan tata caranya
Untuk menebalkan iman dan tauhid
Sebaik-baik bekal dan mulia bila mati
 
Kang aran soleh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma'rifate
Ugo hakikot manjing rasane
 
Yang disebut soleh bagus hatinya
Disebabkan telah mapan derajat ilmunya
Penempuhan Thoriqoh dan ma’rifat
Juga hakikat masuk kedalam rasa
 
Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo
Tanpo ditulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing njero dodo
 
Al qur’an Qodim wahyu yang agung
Tanpa ditulis-pun bisa dibaca
Itulah wejangan guru waskita
Ditancapkan di dalam dada

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu'jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman
 
Menempel hati dan fikiran
Menyebar ke seluruh badan luar dalam
Mu’jizat Rosul jadikan pedoman
untuk menjadi jalan masuknya iman
 
Kelawan Allah kang moho suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadhohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali
 
Beserta Alla yang Maha Suci
Harus melebur siang dan malam
Di puasai di perjuangkan
Dzikir dan wirid jangan sampai lupa
 
Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas pasan
Kabeh tinakdir saking pengeran
 
Hidupnya damai merasa aman
Paham-nya rasa pertanda kalau iman
Sabar menerima meskipun pas pasan
Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan

Kelawan konco dulur lan tonggo
kang podo rukun ojo ngasio
Iku sunahe Rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito
 
Terhadap teman, saudara dan tetangga
Yang rukun jangan bermusuhan
Itulah sunahnya Rosul yang mulia
Nabi Muhammad yang kita ikuti

Ayo nglakoni sakabehane
Allah kang bakal ngangkat derajate
Senajan ashor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate
 
Marilah menjalankan semuanya
Allah yang akan mengakat derajatnya
Meskipun rendah lahirnya
Tapi mulia maqom derajatnya

Lamun palastro ing pungkasane 
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Allah swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese
 
Baik di cerita akhirnya
Tidak kesasar Roh dan Sukmanya
Dijanjikan Allah syurga tempatnya
Masih utuh mayit dan pakaiannya

Titk sentral seluruh ibadah

Didalam sebuah hadits diterangkan bahwa yang menjadi titik sentral seluruh ibadah adalah sholat :
 QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU `ALAIHI WASALLAM:

AWWALU MAA YUHAASABU BIHIL `ABDU YAUMAL QIYAAMATI ASHSHOLAATU, FAIN SHOLAHAT SHOLAHA LAHU SAAIRU `AMALIHI, WA IN FASADAT FASADA SAAIRU `AMALIHI.
( `An Anas , Rowaahut Thobrooni fil Ausath wadl Dliyaa`)
Jaami`us Shoghiir / Jilid I / Huruf Alif / Hal 100 ).
Artinya : Bersabda Rosululloh S.A.W. : " Awal-awalnya sesuatu yang dihisab terhadap hamba pada hari qiyamat adalah persoalan sholat. Jika baik sholatnya maka bagi hamba itu baiklah seluruh amalnya, dan jika rusak sholatnya maka bagi hamba itu rusaklah seluruh amalnya ".
            Seluruh manusia setelah meninggalkan dunia akan menjadi penduduk akhirat, dan pada hari qiyamat itu pastilah semua hamba akan menghadapi persoalan-persoalan sehubungan dengan amalnya ketika di dunia ini.
Semua amalnya akan dihisab / ditanyakan / dihitung / dinilai.
Sholatnya akan dihisab, zakatnya akan ditanyakan, puasanya akan ditanyakan, masalah hajinya akan ditanyakan, masalah perekonomiannya akan ditanyakan.
             Walhasil nanti di hari qiyamat seluruh persoalan akan ditanyakan.
Dan kalau memang pada hari qiyamat itu segudang persoalan akan ditanyakan, lalu apakah sesuatu yang paling awal ditanyakan ?
Apakah yang paling awal dihisab itu soal puasa, zakat, haji, ataukah soal-soal lainnya ?  Tidak.
             Sebelum dipertanyakan soal-soal lain, maka yang menjadi kunci persoalan dan yang paling pertama ditanyakan ialah masalah sholat.
Oleh karena yang menjadi titik persoalan atau kunci persoalan ialah masalah sholat, maka perhatian kita harus kita sentralkan pada persoalan sholat.
 Inilah yang harus menjadi perhatian bagi umat Islam.
             Apabila setelah diperiksa ternyata persoalan sholat itu  "SHOLAHA" (baik), tidak mengecewakan, atau lulus, maka seluruh amalnya ikut saja atau nunut saja, sehingga  puasanya dinilai baik, zakatnya dinilai baik, hajinya dinilai baik, amar ma`rufnya dinilai baik.
Walhasil total semua ibadahnya dinilai baik, karena sholatnya sudah baik.
 FA IN SHOLAHAT SHOLAHA LAHU SAAIRU `AMALIHI.           
             Tetapi apabila setelah diperiksa ternyata persoalan sholat itu "FASADA" (rusak) : sholatnya rusak, sholatnya ngawur, sholatnya tidak berjiwa, sholatnya tidak bernilai sama sekali, maka seluruh amalnya ikut semua, total semua amalnya ikut dinilai tidak baik.
 WA IN FASADAT FASADA  SAAIRU `AMALIHI.
             Maka jelaslah bahwa sholat itu adalah titik sentralnya seluruh amal, hasil dan tidaknya seluruh amal itu ditentukan oleh sholatnya, baik dan buruknya seluruh amal itu tergantung pada sholatnya.
Begitulah hebatnya persoalan sholat.
             Oleh karena hadits ini sebagai pedoman besar yang menerangkan bahwa sesuatu yang menjadi titik sentral dan yang pertama ditanyakan adalah masalah sholat, maka mestinya sebagai umat Islam itu haruslah perhatian penuh-penuh ditujukan pada masalah sholat, bukan masalah lainnya.
Bahkan kadang-kadang masalah sholat itu tidak menjadi perhatian yang penuh, tapi hanya menjadi adat saja,  justru persoalan-persoalan selain sholat yang diperhatikan sampai mendetail. 
Ini adalah suatu tipuan yang menipu diri sendiri. 
            Selanjutnya yang perlu diketahui adalah :
Mengapakah ibadah sholat yang menjadi titik sentralnya semua ibadah ?
Mengapa bukan lainnya sholat ?

Ilmu Yang Disangka Terpuji ternyata Tercela



Sesungguhnya semua ilmu itu tidak tercela. Namun menjadi tercela karena penggunaannya. Ilmu sihir diterangkan dalam Al Quran. Ia tidak tercela karena bersifat informasi dan kita boleh mengetahuinya. Namun jika ilmu itu diamalkan dalam sebuah perilaku, maka akan menjadi tercela.
Tercelanya ilmu itu karena sebab:
  1. Jika ilmu itu menyebabkan kemudharatan apa pun; merugikan pemiliknya atau membahayakan orang lain. Contohnya adalah ilmu sihir dan jimat-jimat. Di dalam Al Quran memang ada diterangkan. Namun sebenarnya merupakan pengetahuan. Tetapi jika diterapkan dan membahayakan, berarti menjadi tercela. 
  2. Jika ilmu itu merugikan pemiliknya dalam banyak urusan seperti ilmu nujum. Ilmu nujum sendiri sebenarnya tidaklah tercela, namun penggunaannya yang menyebabkan tercela. Ilmu nujum bermanfaat sebagai perhitungan perbintangan, mata angin dan cuaca; atau sebagai hukum alam. Namun jika disalahgunakan akan merugikan. 
Timbulnya kekaburan ilmu-ilmu yang tercela dengan ilmu syar’iyyah karena pengubahan nama-nama yang terpuji, penggantian dan memindahkannya dengan tujuan-tujuan merusak, kepada makna-makna yang tidak dikehendaki oleh ulama salaf. Ada lafal nama-nama ilmu yang terpuji namun digantikan dengan nama baru yang bermakna tercela. Lima lafal itu adalah Al Fiqhu, Al Ilmu, At Tauhid, At Tadzkier dan Al Hikmah.
Orang-orang memperlakukan fiqh dengan pengkhususan, bukan dengan memindah. Karena mereka mengkhususkan fiqh dengan “mengetahui bagian-bagian aneh dalam fatwa-fatwa dan memperhatikan terperincinya illat (sebab) cabang-cabang itu, serta menghafal pendapat yang berkenaan dengan cabang-cabang yang terkait.” Oleh karenanya orang yang sangat memperdalam cabang-cabang itu dan sibuk dengannya maka dianggap sebagai orang yang pintar. Padahal sebenarnya nama “fiqh” semula adalah “ilmu jalan akhirat” dan memperinci penyakit-penyakit jiwa yang merusak amal, kekuatan liputan terhadap sepelenya duniawi, amat memperhatikan kenikmatan akhirat serta penguasaan rasa takut pada hati.”
Jadi semula ilmu fiqh bukanlah membahas tentang talak, li’an dan ijarah. Bagaian-bagian ini merupakan cabang kecil yang tidak terkait dengan fiqh yang sebenarnya. Karena dicampuradukkan pengertiannya sehingga orang awam kemudian menganggap fiqh hanya membahas masalah amalan lahiriah atau lebih dikenal dengan ibadah syariat saja. Padahal sebenarnya antara ibadah syariat dengan pengaturan kalbu dibahas dalam ilmu fiqh. 
Kemudian “Al Ilmu”, semula digunakan untuk “ilmu Allah Taala, ayat-ayatNya, tindakan-tindakanNya di kalangan para hamba dan makhlukNya. Sampai-sampai Ibnu Mas’ud kala itu berkata, “Benar-benar telah Mati sembilan per sepuluhnya ilmu”. Ibnu Masud memakrifatkan kata “ilmu” dengan alil lam (Al Ilmu). Kemudian menafsirinya, “Ilmu terhadap Allah swt.”
Lafal ketiga yang dibelokkan ialah At Tauhid. Bagi orang awam diterjemahkan sebagai peraturan Ilmu Kalam, mengetahui cara berdebat, cara-cara menghadapi lawan, mampu berjuang dalam perdebatan, dan sebagainya. Karena itu ahli ilmu kalam disebut ulama tauhid. 
Lafal keempat adalah Adz Dzikru dan At Tadzkir. Adz Dzikru sebenarnya bermakna mengingat (Allah). Namun ulama-ulama jaman sekarang telah membelokkan makna dan amalannya. Dzikir sekarang ialah membaca dan menekuni kisah-kisah, syair-syair, mengaku makrifat dan omongan-omongan yang meresahkan. Sesungguhnya hal itu sudah menyimpang.
Rasulullah saw. bersabda, “Menghadiri majelis dzikir lebih utama daripada shalat seribu rakaat, menghadiri majelis dzikir lebih utama daripada menengok orang sakit, menghadiri majelis dzikir lebih utama daripada menyaksikan seribu jenazah.” Lalu seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika dibanding dengan membaca Al Quran?” Rasulullah saw. bersabda, “Bermanfaat membaca Al Quran dengan menggunakan ilmu.”
Lafal kelima adalah Al Hikmah. Kata-kata hikmah adalah yang dipuji Allah, berdasarkan firmanNya, “Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa diberi hikmah, maka ia benar-benar diberi kebaikan yang banyak sekali.” 
Al Hikmah kemudian dibelokkan sehingga seakan-akan terkait dengan “hakim”. Padahal kata hakim telah menjadi sebutan bagi dokter, penyair, dan ahli perbintangan sampai pula pada orang-orang yang memutar dadu dengan telapak tangan di pinggir-pinggir jalan.

Siapa semar itu ?



Batara Semar
 
MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.
Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8.tidak pernah kedinginan
kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.
 
Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.
 
Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.
 
Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.
 
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.
Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.
Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.
Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.
SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

Jihat

Untuk mencapai Adil Makmur ada caranya, yaitu dengan cara berjuang. Sebab cita-cita itu tidak akan terwujud dan tidak bisa turun sendiri tanpa diperjuangi.
 
Berjuang istilah bahasa arabnya JIHAD
Dan berjuang ( jihad ) itu ada dua macam ;
1. Ada JIHADUL ASHGHOR (Berjuang kecil / perang kecil).
2. Ada JIHADUL AKBAR   (Berjuang besar ).
 
Jadi untuk mencapai cita-cita itu haruslah dengan perjuangan, baik perjuangan kecil (jihaadus shoghiir) maupun perjuangan besar (jihaadul akbar).
 
Masalah jihaadul akbar ini disebutkan dalam Alqur'an surat Al Furqon ;
WAJAAHIDHUM BIHII JIHAADAN KABIIROO
Artinya : " Hendaklah kamu semuanya berjihad dengan jihad yang besar."   (Al Furqon / S. 25 / ayat 52).
Dan mengenai jihadul ashghor, diterangkan dalam hadis Nabi :
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU 'ALAIHI WASALLAMA : QODAMTUM KHOIRU MUQODDAMIN, WAQODAMTUM MINAL JIHAADIL ASHGHORI ILAL JIHAADIL AKBARI
Artinya : " Bersabda Rosulullloh S.A.W : Majumu sebaik-baiknya maju, dan majumu dari perang yang kecil menuju perang yang besar."
Jadi untuk mencapai cita-cita hidup itu haruslah dengan berjuang. Dan berjuang itu ada yang dari perjuangan kecil menuju perjuangan besar.
Syarat-syaratnya agar bisa sukses dalam perjuangan, baik perjuangan kecil maupun perjuangan besar.
Syarat-syaratnya banyak, diantaranya :
1. Kamu harus menginsyafi bahwa hidup itu adalah perjuangan. Orang asing mengatakan STRUGGLE FOR LIFE.
2. Harus menginsyafi bahwa perjuangan yang kecil menuju perjuangan yang besar itu katsirul rintangan (banyak rintangan), katsirul hambatan, katsirul kendala, katsirul musuhnya. Dan harus diinsyafi pula bahwa rintangan itu ;
  • Ada yang muncul dari dirinya sendiri.
  • Ada yang muncul dari alam yang di tempati.
  • Ada yang timbul dari syaithon.
  • Ada yang timbul dari manusia.
3. Harus memakai ilmu, karenanya harus THOLABUL ILMI (mencari ilmu).
4. Harus Shobar / ulet dalam perjuangan.
5. Harus berani.
Sebab meskipun pandai kalau penakut ya njintel (nggak berkembang). Orang penakut itu gupuhan (suka tergesa-gesa). Istilah joyo boyo " pitik trondol matane sak terbang".
Pitik trondol adalah ayam yang lengannya tidak ada bulunya.
Matane sak terbang itu matanya saja yang lebar, maksudnya : Tahu kalau ada yang tidak benar, tapi tidak bisa apa-apa atau tidak berani berbuat apa-apa.
6. Harus benar.
   Berani saja tanpa benar, tak akan bisa jalan di masyarakat.
7. Harus dapat cahayanya hidup atau lampunya hidup, jangan sampai hidup kita tidak mendapat lampunya hidup atau cahaya hidup.
8. Harus Tawakkal
9. Harus yaqin, ini yang pokok.
Jadi syarat – syarat inilah yang harus dipegang bila ingin sukses perjuanganmu.
 
Diantara syarat agar bisa sukses dalam perjuangan (jihaadul ashghor dan jihaadul akbar) harus dapat cahayanya hidup atau lampunya hidup. Lampu / cahaya / nur yang bisa menerangi perjalanan perjuangan hidup kita itu ada tiga macam, yaitu :
1. Nur / cahaya yang terkandung dalam diri kita sendiri yaitu Nur Aqli.
2. Nur wahyu Ilahi
3. Nur Muhammad
Jadi 3 nur (cahaya) itulah yang jadi lampunya hidup.
 
Hidup kalau sudah dapat cahaya hidup, maka hidupnya akan bisa keluar dari gelapnya hidup menuju terangnya hidup. Sebagaimana tersebut dalam surat Al Baqoroh.
ALLOOHU WALIYYUL LADZIINA AAMANUU YUKHRIJUHUM MINADH DHULUMAATI ILAN NUUR
Artinya : "Alloh pelindungnya orang-orang yang beriman, mengeluarkan (Alloh) dari kegelapan menuju kepada terangnya hidup."    ( Al Baqoroh / S. 2 / 257 )
 
Sebaliknya kalau hidupnya tidak mendapat cahaya hidup (tidak dapat nur yang tiga macam itu), berarti hidupnya keluar dari terangnya hidup, menuju gelapnya hidup. Sebagaimana tersebut dalam surat Al Baqoroh.
WALLADZIINA KAFARUU AULIYAA-UHUMUTH THOOGHUUTU YUKHRIJUUNAHUM  MINAN NUURI ILADH DHULUMAAT 
Artinya :" Orang-orang yang kafir itu, wali-walinya ialah Thoghut, dikeluarkannya mereka dari Nur ke dalam gelap gulita".   (Al Baqoroh / S.2 / ayat 257)
 
Jadi ada yang keluar dari terangnya hidup menuju gelapnya hidup dan ada yang keluar dari gelapnya hidup menuju terangnya hidup.
 
Karena sangat sulitnya mencapai jalan hidup yang terang atau jalan hidup yang mendapat cahaya dan juga karena banyaknya jalan, seperti :
  • Mata punya jalan sendiri.
  • Hidung punya jalan sendiri.
  • Telinga punya jalan sendiri
  • Lesan punya jalan sendiri
  • Nafsu punya jalan sendiri
  • Fikiran punya jalan sendiri
Belum lagi aliran-aliran yang beraneka macam, ada aliran Khowarij, Syi'ah, Mu'tazilah, Jahmiyyah, Murji'ah, Jabbariyyah, Ahlus sunah Wal Jama'ah, Ahmadiyyah dan lain sebagainya, makanya setiap hari kita perlu membaca : 
IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM.
"Tunjukkanlah kami kepada Shirootol Mustaqiim".
Tiap-tiap aliran semuanya mengaku paling benar / rebutan benar. Lho kok rebutan benar…?. Soalnya yang benar belum terpegang. Bila sudah terpegang tentunya tidak berebut.
 
Soal kebenaran, sebenarnya yang paling benar adalah yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an (yang sesuai dengan Al Qur'an), bukan karena A atau karena B.