Tampilkan postingan dengan label Rosululloh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosululloh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

Kami Mencintaimu, Ya Rasulullah...



Kami Mencintaimu, Ya Rasulullah...

   Ujian yang sebenarnya dari cinta kepada Rasulullah SAW adalah sejauh mana kedekatan seseorang dengan ajaran-ajarannya, kepeduliannya terhadap ajaran-ajaran itu, serta perhatiannya akan sunnahnya.

Cinta kepada Rasulullah SAW adalah ukuran keimanan. Barang siapa ingin menguji kadar keimanan, hendaklah ia merasakan seberapa besar kecintaannya kepada Nabi Besar Muhammad SAW, junjungan kita. Apakah ia mencintai dengan cinta sejati dan sempurna? Apakah ia mencintainya lebih daripada cinta kepada harta? Melebihi cinta kepada putranya, bahkan lebih dari cinta kepada dirinya sendiri?

Ketika mencintainya, seorang insan mukmin akan tenteram dan tenang, karena telah sempurna imannya. Ia akan selalu memuji Allah SWT, yang telah memuliakannya dengan nikmat Islam. Kita pun memuji Allah, yang telah memuliakan kita dengan karunia ini dan telah mengistimewakan kita dengan manusia terbaik yang pernah ada. Dia telah mengutus bagi kita makhluk yang termulia di sisi-Nya. Dialah pemimpin para rasul, seorang yang jujur, pemberi petunjuk, dan seorang yang terpercaya, penutup para nabi dan rasul semuanya.

Dialah yang terbaik ajarannya dan selalu benar ucapannya, hamba yang paling jujur yang menyatakan kebenaran dan mengungkapkannya secara terang-terangan. Dialah yang termulia di antara para penyeru kebenaran, seorang hamba pilihan yang benar dan yang dibenarkan. Dialah orang yang berakhlaq dermawan dan selalu menunaikan janji.
Allah SWT berfirman, “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami. Dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.” – QS At-Tawbah (9): 128.

Dialah Rasulullah SAW, rahmat yang menjadi anugerah. Dia telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat. Dia berjihad di jalan Allah hingga ajal datang menjemput. Dia tidak pernah berbicara kecuali hal itu benar, dan dia tidak pernah melakukan kecuali kebaikan. Akhlaqnya indah disertai kharisma yang berwibawa dan perangai yang menyantuni. Dialah rahmat yang dihadiahkan kepada umat ini. “Dan tidaklah Kami mengutus engkau, Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” – QS Al-Anbiya’ (21): 108.

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, atas nikmat yang agung ini. Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila ada pada seseorang niscaya dengannya ia akan merasakan manisnya iman. Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, dan dia mencintai seseorang hanya karena Allah, serta dia benci kembali kepada kekufuran sesudah Allah menyelamatkannya dari kufurnya, sebagaimana ia benci apabila dihempaskan ke neraka.” (HR Al-Bukhari-Muslim).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Rasa iman akan didapati oleh orang yang ridha, bahwa Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabi dan rasulnya.” (HR Muslim).

Musuh pun Mengakui
Tidak diragukan lagi, di antara kewajiban umat Islam adalah menjunjung tinggi sirah Nabi yang mulia. Anugerah yang paling agung yang Allah limpahkan untuk umat ini adalah bahwa Dia mengutus kepada kita penutup para nabi dan rasul yang memiliki kedudukan agung dan Allah menyaksikan baginya bahwa ia benar-benar berakhlaq yang luhur. “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlaq yang luhur.” – QS Al-Qalam (68): 4.

Sejak periode awal, umat Islam terdahulu sangat menghormati sirah dan keutamaan perangai-perangai beliau, menjadikan kehidupan dan perilakunya sebagai pelita penerang jalan. Generasi demi generasi memberikan perhatian yang penuh untuk membukukan sirah ini, baik berupa ucapan, sikap, maupun perbuatan yang dapat dipastikan sumbernya dari beliau. Agar tercipta catatan otentik dan paling shahih tentang beliau, sirah seorang nabi utusan Allah SWT.

Kini sirah Rasulullah SAW telah sampai kepada kita melalui metode ilmiah yang benar dan paling kuat yang tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi keraguan, mencatat semua peristiwa kejadian yang berhubungan dengan beliau. Yakni sirah Nabawiyah. Darinya dengan mudah kita mengetahui apa-apa yang ditambahkan belakangan ini, berupa peristiwa, mu’jizat, atau kejadian, yang dilakukan orang bodoh yang mempunyai kecenderungan menambah-nambahkan peristiwa yang mencengangkan tentang Rasulullah SAW agar kedudukan beliau tampak lebih mulia, risalahnya bertambah suci, dan sirahnya semakin agung.

Keistimewaan terpenting dari sirah Rasulullah SAW adalah bahwa ia begitu jelas, teliti, dan terpercaya dalam semua tahap dan fasenya yang berbeda. Beberapa orientalis yang obyektif mengomentari sirah Rasulullah SAW sebagai sirah seorang rasul atau pembesar yang teliti. Ringkasan pernyataan mereka, Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang dilahirkan di bawah sinar matahari. Ini adalah suatu kinayah untuk menunjukkan ketelitian, keshahihan, dan kecocokan apa yang tertulis dengan segala yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Di antara keistimewaan sirah beliau, sirah itu hadir hadir sebagai pembenar bagi risalahnya, memberikan dalil atas kebenaran risalahnya, dan menunjukkan bahwa Allah telah mengutusnya dengan kebenaran yang tidak bisa diubah, baik dengan cara menambahkan sesuatu ke dalamnya maupun mengurangi apa yang ada di dalamnya.

Sirah beliau adalah sirah yang jelas dan sempurna mengenai seorang manusia sempurna yang menyeru kepada Allah SWT dan berjihad kepada Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, dengan cara yang wajar dan lumrah.

Beliau menyeru kaumnya bersatu, tetapi mereka memusuhinya dan memeranginya.

Ketika terpaksa berperang, beliau pun berperang, dan Allah menolongnya sehingga beliau dapat melanjutkan dakwahnya dan meraih kemenangan.

Kemudian Islam tersebar ke seluruh dunia dengan kalimah thayyibah, nasihat yang bagus dan debat dengan cara yang santun, sehingga beliau mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kekotoran syirik menuju cahaya tauhid kepada Allah, Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.

Sirah Nabi tetap harum dan suci, tak dapat dikotori oleh seorang pun, selamanya. Walaupun tidak sedikit yang mendiskreditkan akhlaq mulia dan perilakunya yang agung, meskipun musuh-musuh Islam selalu mencari kesempatan, mendengki, dan iri terhadap beliau.

Sirah Nabi begitu jelas dan nyata. Semuanya benar, seluruhnya jujur, jelas di hadapan para musuhnya sebelum di hadapan para sahabatnya. Mereka mengenal kejujurannya, kehormatannya, kemuliaannya, keunggulan akalnya, dan amanahnya, sehingga tidak ada alasan untuk mereka menuduh beliau sebagai pendusta, orang gila, pengkhianat, maupun tukang sihir.

Seandainya di dalam kehidupan beliau terdapat sesuatu yang tidak bagus, niscaya hal itu akan dimanfaatkan oleh pemuka kafir Quraisy. Tetapi sulit bagi mereka untuk menuduh beliau, karena mereka telah mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang terpercaya.

Pada suatu hari mereka berkumpul di tempat pertemuan untuk bermusyawarah mengenai masalah Rasulullah, lalu majulah ke hadapan mereka An-Nadhr ibn Al-Harits, seorang yang cerdik, memiliki kedudukan, serta mempunyai pengetahuan tentang perkara-perkara yang pelik. Kemudian ia berbicara kepada kaum Quraisy, “Wahai kaum Quraisy, sungguh kalian telah dibuat lelah oleh perkara Muhammad dan kalian tak mampu mengatasi masalah ini.”

Kemudian ia melanjutkan pembicaraan, “Muhammad telah tumbuh di tengah-tengah kalian sehingga menjadi tokoh. Dahulu dia seorang yang paling kalian cintai dan kalian anggap paling jujur sehingga kalian menganggapnya sebagai seorang terpercaya. Tetapi setelah dia tua dan menyatakan dakwahnya, kalian mengatakan bahwa dia seorang tukang sihir, dukun, penyair gila. Demi Allah, aku telah mendengar perkataannya dan kalian pun telah mendengarnya. Tidak ada padanya sesuatu pun sebagaimana yang kalian sebutkan.”

Berakhlaq Al-Quran
Agar kita merasakan cinta kepada Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai teladan, kita mesti mengenal kehidupan dan sirahnya, karena itu merupakan contoh faktual dan hakiki.

Akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Quran, beliaulah yang menerapkan Al-Quran sebagaimana yang datang dari Allah SWT dan yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang mencintai Al-Quran, ia mesti mncintai sirah Rasulullah SAW, karena Al-Quran merupakan akhlaq beliau, sebagaimana shalawat terhadap beliau merupakan rahmat yang agung, nikmat yang besar, dan keutamaan yang besar dari Allah, Yang Mahatinggi lagi Maha Berkuasa.

Karena itu penting bagi kita memperhatikan sirah rasul mulia ini yang dilahirkan pada satu suku Arab termulia, pada nasab terhormat di antara mereka, pada kabilah teragung dari kabilah-kabilah mereka dan yang paling tinggi kedudukan dan derjatnya. Al-Abbas meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya lalu menjadikan aku dari kelompok yang terbaik dan yang terbaik di antara dua kelompok. Kemudian dia memilih kabilah-kabilah lalu menjadikan aku dari kabilah yang terbaik. Lalu Dia memilih rumpun-rumpun lalu menjadikan aku dari rumpun yang terbaik. Maka aku adalah yang terbaik di antara mereka, baik diri maupun asal-usul.” (HR At-Turmudzi).

Rasulullah SAW datang sebagai penutup bagi semua risalah samawi, jadi beliau adalah penutup para nabi dan rasul. Beliau telah diangkat menjadi nabi ketika Adam masih berupa tanah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku hamba Allah yang merupakan penutup para nabi ketika Adam masih berupa tanah.” (HR Ahmad Al-Hakim dan Ibn Hibban).

Demikian pula hadits Abu Hurairah RA, ia mengatakan, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kenabian ditetapkan bagimu?”

Beliau menjawab, “Ketika Adam masih berada di antara jasad dan ruh.” (HR At-Turmudzi dan Al-Hakim).
Ahlulkitab mengetahui hal tersebut dan mengetahui bahwa beliau adalah utusan Allah SWT yang akan diutus oleh-Nya, tetapi mereka mengingkari kebenaran, padahal mereka mengenal dan meyakininya. Allah SWT mengatakan ihwal mereka dalam masalah ini, “Sedangkan sebelumnya mereka memohon kedatangan Nabi untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu mereka mengingkarinya.” – QS Al-Baqarah (2): 89.

Allah SWT juga berfirman, “Orang-orang yang telah Kami beri kitab Taurat dan Injil mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sungguh sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.” – QS Al-Baqarah (2): 146.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar disebutkan, ketika ia ditanya ihwal informasi mengenai Rasulullah SAW yang terdapat dalam Taurat, ia mengatakan, “Ya, demi Allah, beliau diterangkan di dalam Taurat dengan sebagian keterangan yang terdapat dalam Al-Quran, wahai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan pemberi peringatan serta pelindung bagi kaum yang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. Aku menamaimu Al-Mutawakkil (yang bertawakal), yang tidak kasar, tidak kejam, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan memaafkan dan mengampuni. Dan Allah tidak mewafatkannya sampai Dia meluruskan dengannya agama yang bengkok, yaitu dengan mereka mengucapkan ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Dengan kalimat itu ia membukakan mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup.”

Insan yang Sempurna
Sirah Rasulullah SAW adalah sirah yang paling lengkap, menyeluruh, bahkan paling sempurna. Dengan anugerah Allah ia hadir dalam bentuk yang paling shahih dan otentik, dalam sanad maupun dalam riwayat yang tak terdapat pada sirah mana pun.

Umat Islam telah memberikan perhatian luar biasa terhadap sirah Nabi SAW dengan mencatat, meneliti, dan mendokumentasikannya. Mereka juga memberikan perhatian penuh untuk menyebarluaskannya. Mereka menghormatinya dengan membaca, merenungkan, mengkaji, dan memahaminya agar menjadi pelita yang menerangi jalan di hadapan mereka. Hal yang sama mereka lakukan terhadap sirah ahlul bayt-nya yang suci, para khalifahnya yang mendapatkan petunjuk, para shahabahnya yang mulia dan para tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan kebajikan hingga hari Kiamat.

Mereka telah melakukan itu dan terus melakukannya karena ia merupakan sirah yang sempurna. Sejak pernikahan ayahnya dengan ibunya, bahkan sebelum itu, sejak Rasulullah lahir sampai wafat. Demikianlah sirah Rasulullah SAW hadir dengan sangat jelas dalam semua tahapnya dan sangat otentik.

Kehidupan seseorang tidak dapat menjadi teladan yang patut diikuti kecuali jika ia diketahui oleh manusia dalam setiap tahapnya. Kehidupan Rasulullah SAW sejak lahirnya sampai saat wafatnya diketahui oleh orang-orang yang semasa dengan beliau. Sirah telah memeliharanya untuk orang-orang sesudah mereka. Semasa hidupnya beliau tidak pernah terhalang dari pandangan kaumnya.

Semua keadaan beliau dan fase kehidupannya semuanya jelas diketahui secara terperinci. Sirah mencatat kesibukannya berniaga dan pesta pernikahannya. Orang-orang pun tahu perangainya dan loyalitasnya dalam bermasarakat sebelum kenabiannya. Mereka berhubungan dengannya kemudian mengangkatnya sebagai seorang yang terpercaya (al-amin) dan memintanya sebagai penengah dalam sengketa peletakan Hajar Aswad di tempatnya di Ka’bah.

Mereka juga tahu keadaannya ketika Allah membuatnya senang berkhalwat di Gua Hira. Lalu mereka pun tahu keadaannya ketika turun wahyu kepadanya dari Tuhan sekalian alam dan ketika agama Islam muncul pertama kalinya di mana beliau menyeru manusia ke dalamnya dan menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya.

Sirah meliput bagaimana kaumnya melawan dan menentangnya. Apakah luput dari sirah kerja keras dan penderitaan beliau dalam menyebarkan Islam? Juga apakah sirah tidak mencatat bagaimana sambutan penduduk Thaif ketika beliau melarang mereka menyembah berhala dan meminta mereka untuk menyembah Allah semata?

Apakah sirah lupa ketika beliau memberi tahu kepada penduduk Makkah, yang waktu itu kebanyakan kafir, tentang perjalanan Isra dan Mi’raj beliau? Lalu apakah sirah tidak mengetahui ihwal hijrahnya dan bersama siapa beliau hijrah? Juga perang apa yang beliau ikuti serta faktor-faktor apa yang menyebabkan perang itu? Juga bagaimana sikapnya terhadap perdamaian apabila berdamai? Juga terhadap perjanjian-perjanjian jika beliau membuat perjanjian?

Mereka yang mengkaji sirah Nabawiah mengetahui betapa besar perjuangan beliau di jalan kebenaran dan upaya yang beliau sampaikan tentang dakwah Islam lalu Allah menyempurnakan agamanya bagi manusia sampai beliau menunaikan haji wada’ dan Allah mewafatkannya.

Apakah ada di antara hal-hal tersebut yang tak diketahui oleh sirah? Apakah hal-hal yang berhubungan dengan Rasul yang agung ini dan risalahnya ada yang dihalangi oleh tirai penutup? Sungguh setiap perincian kehidupan beliau telah tercatat, termasuk kehidupan sehari-harinya, seperti berdirinya, duduk dan bangunnya dari tidur, serta keadaannya saat tersenyum. Lalu bagaimana ibadahnya di malam hari dan siang hari? Bagaimana beliau makan, minum, dan berpakaian. Warna dan wewangian yang beliau sukai. Bagaimana sikap dan perlakuan beliau terhadap keluarganya. Juga perincian-perincian dalam bersuci dan mandinya sampai pada jasadnya yang suci. Semua terlukis dengan sempurna sehingga seolah-olah Anda melihatnya.

Para Pecinta Rasulullah
Orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW pasti beruntung dan pasti mendapatkan kemenangan, mereka berada dalam kelompok orang beriman dan masuk surga dan Allah akan memberi nikmat kepada mereka. Orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW pasti membenarkannya, membantunya, menemaninya, mencintainya, mempercayainya, dan berkata benar bersamanya. Orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW mempersembahkan diri mereka untuk membela diri beliau. Mereka mencintai lebih dari mencintai harta, anak-anak, bahkan diri mereka sendiri. Mereka mengharapkan anugerah dan keridhaan Allah serta mengharapkan keselamatan Nabi, yang mulia.

Rasulullah SAW telah memberi kabar gembira bahwa mereka akan bersamanya kelak di surga. Dan setiap yang telah dan terus mencintai beliau sampai hari Kiamat akan bersamanya. “Setiap insan akan selalu bersama orang yang dicintainya.” (HR At-Turmudzi dan Abu Dawud).

Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), sesungguhnya ia telah menaati Allah.” – QS An-Nisa (4): 80.

“Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampunimu atas dosa-dosamu.” – QS Ali Imran (3): 3. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mencintai sunnahku, berarti ia benar-benar mencintaiku.” (HR Abu Ya’la dan Al-Baihaqi). Itu adalah kecintaan yang melebihi segala kecintaan dan mengangkatnya ke puncak keimanan.

Allah SWT juga menetapkan metode yang benar bagi seorang muslim sejati, yaitu bahwa barang siapa benar-benar mengikuti Nabi yang mulia dan bahwa keinginannya mengikuti apa yang dibawa Nabi SAW, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR Abu Ya’la).

Para sahabat, orang-orang yang sangat mencintai Rasulullah SAW, adalah orang-orang yang beruntung. Mereka menjadikan sirah beliau sebagai rambu-rambu dan pelita yang menerangi jalan di depan mereka. Menyadari betapa pentingnya meneladani beliau, mereka pun mengikutinya dalam segala masalah, besar ataupun kecil. Mereka menimba ilmu, menikmati, dan berlindung di bawah keteladanan beliau.

Orang-orang mencintai Muhammad bin Abdullah karena ia memiliki sifat santun, sabar, lapang dada, dan pemaaf di saat mampu untuk membalas, dan karena Allah telah menempatkan pada jiwa orang-orang mukmin perasaan cinta terhadap beliau dan menjadikan insan pilihan Allah serta memiliki akhlaq yang agung.

Dikisahkan, suatu ketika Ghauras ibn Al-Harits sengaja menyerang Rasulullah SAW saat beliau tertidur sejenak di bawah pohon. Ketika beliau terbangun, Ghauras telah berdiri dengan memegang pedang yang telah ditempelkan di atas kepala beliau seraya bertanya, “Siapa yang dapat mencegahmu dari aku?”

Beliau menjawab dengan tenang dan penuh iman dan lisan yang jujur, “Allah.”
Seketika itu jatuhlah pedang dari genggaman Ghauras.

Lalu Rasulullah SAW megambil pedang itu dan berkata, “Siapa yang dapat mencegahmu dariku?”
Ghauras menjawab, “Jadilah engkau sebaik-baik orang yang membalas.”

Beliau memaafkan Ghauras dan meninggalkannya.

Lalu hati Ghauras menjadi dekat Islam setelah sebelumnya tidak senang. Bahkan ia kemudian menjadi aktivis dakwah. Ia pergi menjumpai kaumnya untuk membuat mereka cinta kepada Muhammad dan Islam. Ghauras berkata kepada mereka, “Aku datang kepada kalian dari tempat manusia terbaik.”

Sifat pemaaf adalah salah satu sifat yang menghimpunkan hati manusia untuk mencintai Rasulullah SAW dan melembutkan jiwa mereka serta membuatnya mencintai beliau sampai pada tingkat di mana mereka siap untuk mengorbankan jiwanya.

Hindun ibn Abu Halah, anak tiri Rasulullah SAW, berkata ketika menggambarkan beliau. “Sesungguhnya di antara sifat pertama Muhammad bin Abdullah adalah selalu menyimpan lisannya sehingga beliau tidak menggunakannya kecuali untuk kebaikan. Dan beliau tidak pernah menganjurkan hal yang tidak baik, beliau bertutur yang berfaedah. Hal itulah yang melembutkan hati, mendekatkan jiwa. Beliau menganjurkan untuk memberikan hak kepada orang yang memiliki. Beliau tidak pernah berdebat, tidak mencaci seseorang, tidak banyak berbicara, karena khawatir salah ucap, tidak mau mencela kehormatan, dan tidak suka memotong pembicaraan hingga orang yang berbicara selesai dengan keperluannya.”

Di antara akhlaq Rasulullah SAW yang memiliki pengaruh sangat besar dalam dakwah Islam, beliau selalu mempersatukan para sahabatnya dan membagi-bagikan cintanya di antara mereka. Beliau tidak pernah mencaci seseorang, bagaimana pun sebabnya. Sepanjang hayat, beliau mencegah dirinya dari mencaci. Jika berbicara, beliau hanya menyatakan yang benar

Abu Hurairah menggambarkan Rasulullah dengan mengatakan, “Beliau menghadap dengan seluruh tubuhnya dan berbalik dengan seluruh tubuhnya. Beliau tidak pernah berbuat keji, tidak pernah berkata kotor atau berteriak-teriak.”

Bagaimana Mencintai Rasulullah
Setiap muslim pasti tahu, mencintai Allah SWT dan mencintai Rasulullah SAW adalah pokok keimanan. Tetapi bagaimana mencintai Allah dan Rasul-Nya itu? Dari mana memulainya? Apa dimensi-dimensi dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?

Al-Quran telah mengajarkan kepada kita dengan jelas bahwa mencintai Allah terkait dan terarah dengan mengikuti Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu’.” – QS Ali Imran (3): 31.

Mencintai Rasulullah SAW terkait dengan berjalan di atas petunjuknya dan ber- ittiba’ (mengikuti) tanpa disertai kekurangan ataupun hal yang berlebihan dan tidak pula dicampuri bid’ah-bid’ah ataupun kesesatan-kesesatan. Yakni ittiba’ yang mengikuti jejaknya yang membuat iman sempurna dengannya, yang membuat jiwa senantiasa merasakan kecintaan, kerinduan, dan kedekatan dengan Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintai olehnya daipada hartanya, anaknya, dirinya, dan semua manusia.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i).

Ujian yang sebenarnya dari cinta kepada Rasulullah SAW adalah sejauh mana kedekatan seseorang dengan ajaran-ajarannya, kepeduliannya terhadap ajaran-ajaran itu, serta perhatiannya akan sunnahnya. Rasulullah SAW telah meninggalkan kepada kita ajaran yang terang benderang. Tidak berpaling darinya melainkan orang yang binasa. Karena itu menjadi kewajiban kita untuk memegang erat-erat ajaran agama ini, memiliki kepedulian terhadap Al-Quran dengan membacanya, merenungkannya, dan memahami masalah agama yang terdapat di dalamnya, mempertautkan diri dengan sirah Nabi yang mulia, dan menimba dari sumbernya yang segar.

Menjadi keharusan atas diri kita untuk memahami wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, bahwa hal itu dimulai dengan mengikuti beliau. Cinta kepada Allah dan Rasulullah mesti menjadi kesibukan utama dan puncak cita-cita seorang muslim.

Tidak diragukan lagi, seseorang tidak dapat merasakan manisnya iman kecuali bila ia mencintai Allah dan Rasulullah lebih dari segala-galanya. Ia mencintai sesuatu hanya di jalan Allah, dan apabila membenci sesuatu mesti karena Allah, dan yang diharapkan hanya keridhaan Allah.

Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan kita tergolong umat Islam, telah memuliakan kita dengan pemimpin para rasul, dan telah membuat kita cinta kepada penutup para nabi, keluarganya yang mulia dan suci, para sahabatnya yang baik, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebajikan sampai hari Kiamat. Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia mengumpulkan kita bersama mereka semua.

Asma Rasulullah SAW



Dalam kitab Dalail Khairot, terdapat nama-nama Rasulullah Shollahhu 'Alaihi Wassalam
Muhammad : Yang Sangat Terpuji (surah 3:144, 33:40, 47:2, 48:29)
Ahmad : Yang plaing agung puja dan pujinya kepada Allah (surah 61:6)
Hamid : Yang Memuji
Mahmud : Yang Terpuji
Qasim : Yang Membagi (sebenarnya Abul Qasim, Ayah Qasim, yang merupakan kunyah (julukan atau panggilan yang lazim untuk Nabi), beliau juga dipanggil Abu Ibrahim (nama kedua putra Nabi yang juga wafat saat kanak kanak)
‘Aqib : Yang Mengikuti, Yang Terakhir, sesudahnya tidak akan ada Nabi lagi
Fatih : Yang Membuka, Yang Menaklukkan
Syahid : Saksi (Surah 33:45)
Hasyir : Yang Pertama dibangkitkan dari kubur dan Mengumpulkan Manusia (pada Hari Kiamat) di Padang Masyar
Rasyid : Yang Terbimbing (surah 11:78)
Masyhud : Yang Tersaksikan
Basyir : Pembawa Kabar kabar Baik (surah 7:88)
Nadzir : Pemberi Peringatan (surah 33:45 dan sering)
Da’i : Penyeru (surah 33:46)
Syafi : Yang Menyembuhkan
Hadi : Yang Memandu ke Kebenaran (surah 13:7)
Mahdi : Yang Terbimbing Baik
Mahi : Yang Menghapus (kedurhakaan), dengannya Allah menghapuskan kekafiran
Munzi : Yang Menyelamatkan, Yang Menyampaikan
Naji : Keselamatan
Rasul : Utusan (banyak terdapat di dalam Al-Quran)
Nabi : (banyak terdapat di dalam Al-Quran)
Ummi : Buta huruf (surah 21:107)
Tihami : Dari Tihama
Hasyimi : Dari Keluarga Hasyim
Abthani : Milik Al-Bathha (daerah di seputar Makkah)
Aziz : Yang Mulia (surah 9:128). Aziz juga sebuah Nama Allah
Harish ‘alaikum : Penuh Perhatian terhadap Anda (surah 9:128)
Rauf : Lembut (surah 9:128). Juga sebuah Nama Allah
Rahim : Penyayang (surah 9:128). juga sebuah Nama Allah
Thaha : (surah 20:1)
Mujtaba : Yang Terpilih
Thasin : (surah 27:1)
Murtadha : Yang Diridhai
Hamim : (permulaan surah 40:46)
Mushtafa : Yang Terpilih
Yasin : (surah 36:1)
Aula’ : Yang Lebih Patut, Yang Lebih Baik (surah 33:6)
Muzammil : Yang Terbungkus (surah 74:1)
Wali : Sahabat, Yang Menolong, Yang Berbuat Kebaikan. Juga sebuah nama Allah
Mudatstslr : Yang Berselimut (surah 73:1)
Matin : Yang Kukuh
Mushaddiq : Yang Menyatakan Kebenaran (surah 2: 101)
Thayyib : Yang Baik
Nashir : Yang Menolong. Juga sebuah Nama Allah
Manshur : Yang Ditolong (oleh Allah), Yang Berjaya
Mishbah : Dian, Lampu (suvah 24:35)
Amir : Pangeran, Pemimpin
Hijazi : Dari Hijaz
Tarazi : (?)
Quraisyi : Dari Suku Quraisy
Mudhari : Dari Suku Mudhar
Nabi Al Tawbah: Nabinya Tobat
Hafizh : Yang Menjaga. Juga sebuah Nama Allah
Kamil : Yang Sempurna
Shadiq: : Yang Lurus, Tulus, Suci (Surah 19:54), digunakan untuk Ismail
Amin : Yang Terpercaya (Surah 26:107, 81:21)
Abdullah : Hamba Allah
Kalim Allah : Dia yang kepadanya Allah Berfirman (biasanya nama kehormatan Musa) `
Habib Allah : Sahabat Tercinta Allah
Naji Allah : Sahabat Karib Allah (biasanya nama kehormatan Musa)
Shafi Allah : Sahabat Tulus Allah (biasanya nama kehormatan Adam)
Khatam Al-Anbiya’: Penutup Para Nabi (surah 33:40)
Hasib : Yang Mulia. _]uga sebuah Nama Allah
Mujib : Yang Menjawab. Juga sebuah Nama Allah
Syakur : Yang Banyak Bersyukur. Juga sebuah Nama Allah
Muqtashid : Mengambil sebuah Jalan Tengah (surah 35:32)
Rasul Al Rahmah : Rasulnya Rahmat
Qawi : Kuat. Juga sebuah Nama Allah
Hafi : Yang Tahu (surah 7:187)
Ma ’mun : Terpercaya
Ma ‘lum : Termasyhur
Haqq : Kebenaran (surah 3:86)
Mubin : Jelas, Nyata (surah 15:89)
Muthi : Taat
Awwal : Pertama. Juga sebuah Nama Allah
Akhir : Terakhir. Juga sebuah Nama Allah
Zhahir : Yang Lahir, Eksternal. Juga sebuah N ama Allah
Bathin : Yang Batin. Juga sebuah Nama Allah
Yatim : Yatim (surah 93:6)
Karim : Yang Pemurah (surah 81:19). Juga sebuah Nama Allah
Hakim : Yang Arif, Bijaksana. Juga sebuah Nama Allah
Sayyid : Tuan (surah 3:39) _
Siraj : Dian, Lampu (surah 33:46) _
Munir : Bercahaya (Surah 33:46)
Muharram : Yang Terlarang, Suci
Mukarram : Yang Mulia
Mubasysyir : Pembawa Kabar Baik (surah 33:45)
Mudzakkir : Yang Mengingatkan
Muthahhar : Suci
Qarib : Dekat. Juga sebuah Nama Allah
Khalil : Sahabat Baik (biasanya nama kehormatan Ibrahim)
Mad’u : Yang Diseru `
Jawwad : Yang Pemurah
Khatim : Penutup (surah 33:40)
‘Adil : Yang Adil • .
Syahir : Termasyhur
Syahld : Yang Menyaksikan, Saksi. Juga sebuah Nama Allah
Muqaffi : Nabi Yang Datang sesudah Nabi Nabi sebelumnya dan mengikuti jejak mereka
Malhamah : Nabi yang telah diijinkan baginya dan bagi umatnya berperang melawan orang kafir yang menentangnya
Rasul Al-Malahim : Rasulnya Pertempuran pertempuran Hari hari Terakhir •

Salah satu nama yang paling sering disebut sebut namun tidak terdapat di dalam daftar khusus ini adalah ‘Abduhu (hambaNya, hamba Allah) yang terdapat di dalam surah 17:1 dan 53:10 dan lazim sebagai sebuah nama orang (misalnya, Muhammad ‘Abduh).

Arti Nama Rasulullah dan Sifatnya



Nama ini (Muhammad) adalah nama beliau SAW paling masyhur. Secara etimologis, berakar pada asal kata al hamdu dengan kondisi bentuk kata isim Maf’ul, mengandung makna:
"Pujian atas yang terpuji, mencintainya, meninggikannya, dan mengagungkannya".
Inilah sebenamya hakikat pujian.
Maka Muhammad, artinya : Orang yang banyak mendapat pujaan orang orang yang memuji. Atau berarti: Orang yang berhak dipuji terus menerus.
Di dalam hadis Jubair bin Muth'im ra, dari Nabi SAW bersabda:
"Saya mempunyai beberapa nama: Saya Muhammad (yang terpuji), nama saya juga Ahmad (yang paling terpuji) dan nama saya juga Al Mahie (Penyirna) karena dengan nama ini Allah menyirnakan kekufuran".'
Nabi SAW terpuji di sisi Allah SWT, terpuji di sisi para Malaikat, terpuji di sisi saudara saudaranya para nabi dan terpuji di kalangan penduduk bumi semua, dan semua sifat sifat beliau sempurna dan terpuji di mata orang orang berakal.

Terbukti Tuhannya, Allah SWT telah memujinya bahkan menganugerahkan Asma dan Sifat-Nya, raufur-rahiim disematkan kepada sifat Baginda Nabi SAW ;

“sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah ayat 128)
Nama beliau adalah Muhammad dan Ahmad. Ummat beliau adalah al Hammaaduun, orang orang yang banyak dan terus menerus memuji, mereka memuji Allah SWT dikala senang dan susah.
Khutbah beliau selalu diawali dengan al hamd (pujian), demikian pula surat surat beliau, di tangan beliau pula kelak di hari kiamat akan berkibar bendera pujian (liwaa' al hamd).
Setelah beliau bersujud di sisi Tuhannya untuk mendapatkan syafa'at , dan memperoleh izin kemudahan memberi syafa'at Allah memuji beliau dengan pujian kemenangan bahwa beliau adalah Shahibul Maqaam al Mahmuud (Pemilik Singgasana Terpuji) yang menjadi dambaan para terdahulu dan orang orang kemudian.

Beliau Mahmud SAW, karena telah memenuhi bumi dengan petunjuk, iman, ilmu nafi' dan amal saleh, membuka hati, menyingkap kegelapan penduduk bumi, menyelamatkan mereka dari perangkap syetan, dari kemusyrikan, kekufuran dan kebodohan.
Karena beliau, para pengikutnya meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Beliau telah mengenalkan mereka pada jalan menuju keridlaan Tuhannya dan surga keramat tempat tinggalnya, tiada suatu yang baik kecuali beliau telah memerintahkannya dan tidak ada suatu yang jelek kecuali beliau telah melarangnya, tegasnya SAW:
"Segala suatu yang dapat menghantar kalian ke surga telah kami perintahkan kalian untuk mengerjakannya, dan setiap sesuatu yang menghantar kalian ke neraka telah kami larang kalian mengerjakannya".


Allah SWT pun berfirman :
"Muhammad adalah hambaku, Rasulku.
Saya beri nama dia Al Mutawakkil (yang pasrah)
la tidak keras dan tidak berhati kasar
Tidak suka cekcok menarik suara di pasar
Tidak membalas keburukan dengan keburukan
la sangat pemberi maaf
Dan saya tidak akan mencabut ruhnya sebelum
tugas dia meluruskan agama bengkok selesai
Saya perintahkan dia membuka mata mata yang buta
Telinga telinga tuli, hati hati yang tertutup
Hingga mereka menyatakan "Laa Ilaaha Illallaah"
Tiada Tuhan selain Allah.”

• la adalah wujud makhluk paling pengasih dan paling penyayang, paling besar memberi manfaat untuk mereka dalam masalah agama dan dunia.
• Beliau makhluk Allah paling fashih.
• Untaian katanya paling indah, simpel tapi penuh arti dan tepat sasaran,
• Paling sabar dalam hal-hal yang menuntut kesabaran
• Paling tepat waktu dalam berbagai pertemuan
• Paling tepat pada janji dan tanggung jawab
• Paling banyak menanggung kebaikan dalam ganda besar
• Paling tawadlu'
• Paling banyak mendahulukan orang lain atas dirinya
• Paling gigih membela dan melidungi sahabatnya
• Paling tepat melakukan apa yang diperintahkan kepadanya
• Paling cepat meninggalkan apa yang dilarang
• Dan paling setia menyambung silaturrahim Ali ra berkata : "Rasulullah SAW adalah: Paling baik memiliki dada
• Paling benar tutur katanya
• Paling lembut punya temperamen
• Paling mulia punya pergaulan
• Dalam sepintas beliau dilihat menakutkan
• Dan siapapun yang bergaul dengan arif ia mencintainya
• Yang memperhatikan akan berkata: Belum pemah aku melihat sebelum ini atau setelah ini orang seperti beliau SAW."

Diriwayatkan oleh Turmidzi didalam As Syama'il Maksud dari Ucapan Sayidina Ali ra bahwa:
• Beliau paling baik punya dada, artinya: Dada beliau penuh kebaikan meliputi semua makhluk dan semua kebaikan.
• Paling benar punya tutur kata, artinya: Tidak pernah ada seorangpun yang mendapatkan beliau berbohong walaupun sekali. Tidak terkecuali para pencinta beliau, para musuh beliaupun mengakui kebenaran beliau.

• Paling lembut punya temperamen, artinya: Beliau pemurah, lembut, dekat dengan siapa saja, menghadiri undangan orang yang mengundangnya, me-laksanakan kebutuhan orang yang memerlukannya, menarik hati orang yang bertanya, tidak mengelak atau menolak dengan merta, menerima kebaikan setiap orang yang berbuat baik kepada beliau dan memaafkan setiap orang yang berbuat jahat kepada beliau.

• Dalam sepintas beliau dilihat menakutkan, dan setiap orang yang bergaul dengan arif ia mencintainya, artinya:
Dua karekter ini adalah prioritas Allah bagi setiap hamba yang loyal Shidiq (benar) dan Ikhlas: Adalah dua sifat keagungan dan cinta yang membiaskan wibawa besar dan rasa cinta, membuat setiap orang yang memandangnya hormat dan takut, hatinya penuh ta'dhiem dan ijlal hingga lawanpun.

Tapi bila bergaul dan bersahabat ia akan mencintai beliau melebihi makhluk lain, beliau akan ditinggikan, diagungkan, dicintai dan dihormati. Demikianlah cinta yang sempurna, akan senantiasa membiaskan keagungan dan wibawa, maka cinta tanpa ta'dhiem dan wibawa, atau ta'dhiem dan wibawa tanpa cinta tanpa ta'dhiem yang wibawa, atau ta'dhiem dan wibawa atau ta'dhiem dan wibawa tanpa cinta akan ganjil, seperti penipu dhalim.

Suatu kesempurnaan: muatannya sejatinya adalah cinta, kasih sayang rasa ta' dhiem dan ijlal. Sifat ini tidak akan didapati kecuali pada yang dicintai telah memiliki sifat sifat tersebut.
Dan hanya Allah SWT jua yang berhak memiliki sifat sifat ini, maka Dialah semata yang berhak diagungkan, dibesarkan, ditakuti dan dicintai, sepenuh hati tanpa sekutu, karena dosa menyekutukan Allah dengan memberikan porsi cinta yang sama antara Allah dan lainNya adalah dosa syirik yang tak terampuni, Allah sendiri menegaskan:

165. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al-Baqarah ayat 165)
[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

Dan yang paling tepat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud Ijlal, artinya ialah Ta'dhiem (mengagungkan), dan Al Ikraam, artinya : Al Hubb (cinta).
Maka segala bentuk cinta dan ta'dhiem terhadap manusia tak lebih dari sekedar efek atau konsekwensi cinta dan ta'dhiem kepada Allah, seperti:
Cinta dan ta' dhiem kepada Rasul Allah, adalah konsekwensi mencapai kesempurnaan cinta dan ta'dhiem kepada Yang Mengutusnya. Semen- tara cinta ummat kepada beliau SAW adalah konsekwensi (taba'un) cinta Allah kepada beliau SAW, dan ta'dhiem mereka kepada beliau SAW adalah konsekwensi Ijlal Allah kepada beliau SAW.
Dengan demikian, maka:
• Cinta kepada Rasulullah merupakan manifestasi cinta milik Allah dan wujud konsekwensi dari cinta Allah.
• Cinta kepada para Ulama (Ahlul Ilmi) dan Orang orang Beriman (Ahlul Iman), dan
• Cinta kepada para Sahabat Rasulullah SAW radliyallaahu' anhum dan hormat kepada mereka, merupakan konsekwensi dari cinta Allah dan RasulNya kepada mereka.
Artinya, bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepada nabi Muhammad SAW wibawa (Al Mahabah), dan cinta (Al Mahabbah) setiap orang Mukmin yang Ikhlash akan mendapat bagian dari wibawa dan cinta itu.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: Sesungguhnya setiap orang Mukmin telah mendapat anugerah wibawa dan manisnya cinta, artinya: dia dicinta, ditakuti dan dihormati karena anugerah tersebut.

Sebelum masuk Islam Amru bin Al 'Ash pernah berkata:
Tidak ada seorang yang paling saya benci melebihi Rasulullah, setelah saya masuk Islam beliau adalah orang yang paling saya cintai dan paling mulia dimataku. Andaikan saya diminta untuk menggambarkan beliau, saya tidak akan mampu karena mataku tidak pernah puas memandang dan menghormati beliau SAW.

Kepada orang orang Quraisy, Urwah bin Masud ra pernah berkata:
Wahai kaumkui Demi Allah, saya telah datang diutus menghadap kaisar, kisra dan para raja. Saya belum pernah melihat seorang raja dihormati oleh para sahabatnya seperti apa yang di- lakukan sahabat sahabat Muhammad kepada Muhammad SAW.
Wallaahi, mereka tidak pernah memandang tajam kepada beliau karena hormat.
Setiap kali meludah, Judah meliau jatuh ke telapak tangan sebahagian mereka sebelum jatuh ke tanah lalu is kurapkan ke wajah dan dadanya.
Bila berwudlu', mereka berebut berusaha mendapatkan yang jatuh dari air wudlu 'nya.

Mengenal fisik Rosululloh



Saat seseorang memandang fisik Rasulullah saw., ia segera merasakan bahwa ia sedang
berada di depan keindahan yang meng-agumkan dan tak ada duanya. Penampilan yang
mencerminkan ke-percayaan yang mutlak dan tak terbatas. Berikut ini adalah pendapat
yang disepakati oleh mereka yang bertemu dan melihat langsung Rasulullah saw,
mudah2an menambah kerinduan dan kecintaan kita pada rasulullah.
Ad-Darimi dan al-Baihaqi mentakhrij bahwa Jabir bin Samurah berkata,
“Aku melihat Nabi saw. pada malam bulan purnama, dan ketika aku bandingkan antara
wajah Nabi saw. dan indahnya bulan, say a dapati wajah Nabi saw. lebih indah
dibandingkan rembulan.”


At-Tirmidzi dan al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata,
“Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari Rasulullah saw.. Seakan-akan
mentari bersinar dari wajah beliau. Aku tidak pernah dapati seseorang yang lebih cepat jalannya dibandingkan beliau, seakan-akan bumi melipat sendiri tubuhnya saat beliau berjalan. Ketika aku ikut berjihad, aku lihat beliau tidak pernah berlindung di balik perisai.”

Bukhari-Muslim meriwayatkan bahwa al-Barra berkata,
“Rasulullah saw. mempunyai pundak yang lebar, rambutnya mencapai ujung telinga,
dan tidak pernah ada orangyang lebih indah dipandang dibandingkan beliau.”

Muslim meriwayatkan dari Abu Thufail bahwa ia pernah diminta untuk menceritakan
tentang Rasulullah saw. kepada kami, kemudian ia menjawab,
Beliau memiliki wajah yang putih dan berseri.”

Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata,
“Rasulullah saw. memiliki dua kaki yang kokoh dan tegap, dan wajah yang indah, yang
belum pernah kutemukan wajah seindah itu sebelumnya.”


Abu Musa Madini meriwayatkan dalam kitab ashShahabah bahwa Amad bin Abad al-
Hadhrami berkata,
“Aku melihat Rasulullah saw., dan tidak pernah melihat wajah seindah itu sebelumnya
maupun sesudahnya.”

Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata,
“Aku tidak pernah temukan orangyang lebih berani, dermawan, dan lebih bersinar
wajahnya, dibandingkan Rasulullah saw..”

Ahmad dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Mahrasy Kahti berkata,
“Rasulullah saw. mengambil umrah darijiranah, pada malam hari. Dan, ketika soya
melihat bagian belakang tubuh beliau, say a seperti melihat perakyang menyala.”

Abdullah bin Imam Ahmad serta al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Ali r.a. berkata,
“Rasulullah saw. bukanlah orangyang tubuhnya tinggi menjulang.Jika berjalan bersama
rombongan, beliau tampak menonjol. Wajahnya putih, kepalanyabesar, alis matanya
panjang dan hitam, danjika ada keringat yang menetes dari wajah beliau, akan tampak
seperti mutiara. Aku tidak pernah melihat wajah seindah wajah beliau, sebelumnya atau
setelahnya.”

Deskripsi tentang Rasulullah saw. yang diberikan oleh Hindun bin Abi Halah,
Tubuh Rasulullah saw. menampakkan pribadiyang agung. Wajahnya bersinar seperti
bulan purnama. Kepalanya besar. Rambutnya keras. Kuliatnya putih ke-merahan.
Keningnya luas. Alisnya tebal.Jika marah, keningnya meneteskan keringat. Hidungnya
mancung. Tubuhnya diliputi cahaya. Orangyang tidak memperhatikan dengan saksama
menyangkanya amat tinggi.Jenggotnya tebal. Matanya hitam. Kedua pipinya tirus.
Mulutnya lebar. Giginya indah. Memiliki bulu halus di atas perut. Lehernya amat halus.
Tubuhnya sedang. Sedikit gemuk dan tegap, dengan perut dan dada yang seimbang.
Dadanya bidang. Kedua pergelangan tangannya panjang. Telapak tangannya luas.
Kedua kaki dan tangannya kekar. Jari-jarinya panjang. Jalannya tegap, seperti sedang
turun dari ketinggian. Jika menoleh, dengan seluruh tubuhnya. Pandangannya selalu
tertunduk he tanah, danjarang sekali mendongakkan matanya he langit....”

Jika Rasulullah menyentuh seseorang, orang itu akan merasakan ketenangan yang
mengagumkan, dan perasaan ketinggian ruhani yang menakjubkan. Ahmad
meriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berkata,
Suatu ketika akujatuh sakit di Mekah. Kemudian Rasulullah saw. menjenguk,
meietakkan tangan beliau di kening, dan mengusap wajah, dada, sertaperutku. Hingga
saat ini, aku masih merasakan sentuhan tangan beliau dijantung.”

Muslim meriwayatkan bahwa Jabir bin Samurah berkata,
“Suatu ketika Rasulullah saw. mengusap mukaku dengan tangannya. Aku dapati tangan
beliau demikian sejuknya dan berbau wangi. Seakan-akan tangan tersebut baru
dikeluarkan dari kantong kesturi.”


Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Anas r.a. berkata,
Aku belum pernah menemui sutra maupun beludru yang lebih lembut dari tangan
Rasulullah saw. Dan, belum pernah mencium bau misik atau minyak anbar yang lebih
harum dari Rasulullah saw..”


Penampilan beliau memberikan sugesti kepada orang yang melihatnya bahwa orang
tersebut sedang berdiri di hadapan seorang nabi. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa
Abdullah bin Salam berkata,
“Ketika Nabi saw. datang ke Madinah, aku menemui beliau. Ketika aku melihat wajah
beliau, aku segera mengetahui bahwa wajah beliau bukan wajah seorang pendusta.”

Abu Ramtsah Tamimi berkata,
“Aku mendatangi Nabi saw. bersama anakku. Ketika aku melihat beliau, hatiku langsung
berkata, ‘Orang ini pastilah nabi Allah.’”

Abdullah bin Rawahah berkata tentang Rasulullah saw,
Seandainya tidak ada ayat-ayat penjelas pun, yang menerangkan beliau sebagai rasul,
niscaya penampilan dan tubuh beliau sudah cukup menjadi keterangan itu.”


Ini adalah sebagian riwayatyang menjelaskan tentang tubuh Rasulullah saw.. Semua
keagungan postur tubuh beliau itu kami ceritakan kembali, sehingga kita dapat
menangkap dengan jelas kepribadian Rasulullah saw. dari segala seginya.

Puasa hari kelahiran

PUASA HARI LAHIR MENTELADANI ROSULULLOH SAW
 
LAQOD KAANA LAKUM FII ROSUULILLAAHI USWATUN HASANATUN LIMAN KAANA YARJULLOOHA WAL YAUMAL AAKHIRO WADZAKAROLLOHA KATSIIRON
Artinya:" Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap-harap Rohmat Alloh dan kedatangan hari Qiyamat dan dia banyak-banyak menyebut Alloh".(Al Akhzab/S.33/21)
 
'AN ABI QOTADATAL ANSHOORI RODLIYALLOO HU'ANHU : ANNA ROSUULULLOOHI SHOLLA LLOOHU 'ALAHI WASALLAMA, SU-ILA 'AN SHOUMI YAUMIL ITSNAINI FAQOOLA DZAALIKA YAUMUN WULID TU FIIHI WA BU-ITSTU FIIHI WA UNZILA 'ALAYYA FIIHI (rowahu Muslim / Buluughul Marom/Bab Shoumut Tathowwu'/ Hadits nomer 699)
Artinya: Keterangan dari Abi Qotadah Al Anshori RA: Sesungguhnya Rosululloh SAW ditanya tentang puasa hari Isnen. Maka Beliau bersabda:"Di hari Isnen itu saya dilahirkan dan saya diangkat menjadi Rosululloh dan diturunkan kepada saya pada hari itu Al Qur-an".
Waktu Rosululloh SAW ditanya mengapa Rosul puasa hari Isnen, Rosul menjawab bahwa pada hari Isnen itu Rosululloh dilahirkan, sedangkan Rosululloh SAW itu adalah contoh yang baik, Rosululloh SAW derajat ketinggiannya tidak ada yang membandingi, meskipun demikian masih puasa hari lahirnya. Dan kita sebagai ummatnya, apakah tidak sebaiknya mencontoh Rosululloh SAW…?.
 
Kami merasa heran, Pernah mendengarkan ceramahnya 'Ulama populer di TV, pada malam Jum'at (biasanya ada acara Santapan Ruhani). Waktu itu kami kebetulan mendengarkan bahasan masalah Ibadah Puasa, dan dalam ceramah tersebut menerangkan, bahwa orang puasa hari kelahiran itu adalah Bid'ah Dlolalah, perbuatan Bid'ah yang diancam Neraka, karena tidak ada dasar Al Qur-an dan Hadits Nabi. Kalau ceramah tersebut menerangkan seperti itu maka Nabi Muhammad SAW diancam Neraka juga…!. Ini keterangan aneh bin ajaib, katanya tidak ada keterangan dalam Al Qur-an dan Hadits Nabi (padahal ceramah ini ditayangkan dalam Televisi). Apakah betul tidak ada keterangannya dalam Al Qur-an dan Hadits, atau beliau itu yang tidak bisa menemukannya…!. Kadang-kadang orang itu tidak menemukan dasarnya, langsung diambil kesimpulan tidak ada. Padahal tidak ada dengan tidak ketemu itu lain/beda. Kalau dicari kemudian tidak ketemu itu jelas ada, adanya dicari itu karena ada, untuk apa dicari kalau tidak ada, hanya saja dicari akan tetapi tidak ketemu.
 
Dalil dalam Al Qur-an dan Hadits itu ada dalil Naqli yang dijelaskan dalam ayat-ayatnya, tapi juga ada dalil Mafhum yaitu dalil pengertian yang diambil dari dalil Naqli. Sedangkan keterangan tentang puasa hari kelahiran itu yang banyak dalil Mafhum bukan dalil Naqol /naqli.
 
Kita diperintah mencontoh Rosululloh SAW dan Rosululloh SAW sendiri puasa hari lahirnya, yang diberi contoh adalah kita ummatnya, apakah yang diberi contoh ini diam saja tidak mencontoh…?. Maka jelas mengenai puasa hari kelahiran itu ada dalilnya ada dasarnya. Memang ada sebagian Ulama mengatakan bahwa puasa kelahiran itu tidak ada dalilnya, biarlah mereka berkata seperti itu.Yang jelas puasa hari kelahiran itu ada Haditsnya, dan kita mencontoh Rosululloh SAW.
 
Jadi puasa hari kelahiran itu adalah niat mensyukuri nikmat wujud manusia pada hari itu
 
MENGAGUNGKAN HARI LAHIR
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Awwal
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Akhir
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Jihad
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Hijroh
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Fithroh
  • Hari lahir itu adalah Yaumit Talkinul Awwal
  • Hari lahir itu adalah Yaumil Ba'tsul Awwal.dll.
Kalau menerangkan nama hari kelahir-an,Yaumil-yaumil ini ada 40 macam. Dan satu macam saja bahasannya panjang.
 
Sampai-sampai Alloh Ta'ala sendiri menghormati hari kelahirannya Nabi Yahya As.
WASALAAMUN 'ALAIHI YAUMA WULIDA
Artinya:"Salam (selamat) untuknya (N.Yahya) pada hari ia dilahirkan".(Maryam/S.19/15)
 
Nabi Isa As sendiri Ta'dhim menghormati hari lahirnya sendiri.
WAS SALAAMU 'ALAIYA YAUMA WULID TU
Artinya:"Selamat sejahtera bagiku pada hari aku dilahirkan".(Maryam/S.19/33)
 
Seandainya kita tidak dilahirkan ke dunia ini, apakah ada nikmat mata, nikmat telinga, nikmat hidung, nikmat macam-macam lainnya. Semua nikmat di dunia yang diberikan kepada kita berdiri di atas nikmat landasan, yaitu wujud kita sendiri ini, itu Al Qur-an sendiri yang menerangkan.
WALLOOHU AKHROJAKUM MIN BUTHUUNI UMMAHAATIKUM
Yang akhirnya (diakhiri dengan):
LA'ALLAKUM TASYKURUUNA